Tersesat di Amsterdam

Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan dari Brussels, tibalah saya di Amsterdam. Tepatnya, bus yang saya tumpangi sampai di Stasiun Sloterdijk, Amsterdam. Cuaca sore itu cukup cerah, walau masih agak dingin untuk ukuran saya. Yay, akhirnya saya menjejakkan kaki juga di negeri Kincir Angin ini padahal sebelumnya ini cuma mimpi.

Baiklah, sekarang yang harus saya lakukan adalah langsung menuju ke hostel yang sebenarnya kalau dilihat dari Google Maps letaknya cuma sekitar 25 menit dari stasiun. Berhubung selama di Paris dan Brussels saya selalu selamat pakai Google Maps, jadi di Amsterdam pun tak akan terjadi banyak kendala dong. Langsung saya ketik nama hostel saya di apps, awalnya agak aneh karena apps tidak menunjukkan jarak. Ya itu normal, kan baru saja sampai di negara baru pasti provider telepon juga mesti adaptasi dulu, pikir saya. Saya ikuti arahan yang ditunjukkan di apps. Sudah sekitar 30 menit, kok gak ketemu juga hostel saya. Saya cek lagi dan ikuti lagi petunjuknya. Ternyata saya cuma muter-muter aja dari stasiun tadi dan malah makin menjauh dari hostel. Astaganaga. Saya balik lagi ke stasiun dan mencoba kembali mencari jalan lewat Google Maps. Kali ini apps sudah menunjukkan jarak dan waktu tempuh sampai tujuan. Bagus! Pasti bakal sampai nih sekarang, saya optimis.

Jalan lagi dan sampailah saya di kompleks perumahan yang agak suram dan mengarah ke kompleks perumahan “ghetto” kalau menurut saya. Itu sekitar pukul 6 sore dan angin bertiup dingin sekali. Geez, saya di mana, sih, ini? Pengin rasanya nangis. Tapi, ini harus diselesaikan. Untungnya saya sempat lewat jembatan dan berhenti sejenak untuk lihat sunset yang cantik dan memotretnya. Sedikit membuat saya lebih tenang.

Masih di kompleks perumahan yang creepy ini. Kayaknya orang-orang di sini entah pada belum pulang beraktivitas atau memang tidak mau keluar rumah. Sepi benar. Pengin tanya kan gak bisa, ya? Haduh. Jangan-jangan saya gak bakal ketemu hostel saya dan akhirnya saya tinggal di jalan dengan koper segede dan seberat ini terus saya jadi gelandangan di negeri orang. Bagaimana ini? Akhirnya pesimis juga. Tapi percayalah, saat kita merasa putus asa dan pasrah di situlah kita akan mendapat pencerahan.

Tibalah saya di sebuah jalan besar dan saya ketemu orang untuk ditanya. Orang ini agak aneh karena dia ngoceh terus dan tidak menjawab pertanyaan saya. Saat saya tanya di mana letak hostel saya dia memberi tahu saya, tapi dengan bahasa Inggris yang berantakan, dan saya yakin betul arah yang dia beritahukan kepada saya bukanlah alamat hostel yang saya tuju.

Baiklah, saya tetap maju melangkah. Lima belas menit kemudian, saya melihat satu-satunya gedung besar di antara taman luas dan perumahan. Aha! Itulah hostel saya! Kaki yang sudah gempor ini pun akhirnya bisa diistirahatkan. Saya masuk dan check-in. Sampai kamar saya langsung mandi dan kenalan dengan teman sekamar, seorang cewek muda asal Jerman yang sebenarnya gebetable. Dia tanya apa yang akan saya lakukan nanti malam. Saya langsung jawab saya akan tidur dan gak ke mana-mana soalnya saya udah keliling Amsterdam sekitar 2 jam! Saya istirahat dan siap untuk menjelajah Amsterdam esok hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s