Diusir dari Tobacco Shop di Paris

Memang tidak ada habisnya mengupas tentang Paris. Ada saja hal-hal menarik terjadi, baik yang menyenangkan maupun yang menyebalkan dan cenderung sial seperti yang saya alami.

Harap dicatat, saya bukan perokok. Namun, bila kalian ke Paris atau ke daerah Eropa lainnya dan hendak mengisi ulang pulsa, kalian harus pergi ke tobacco shop atau toko tempat membeli rokok.

Sebenarnya ini hal yang memalukan bagi saya untuk diceritakan tapi juga sekaligus bikin ketawa ngakak tiap kali mengingatnya. Saat itu saya lagi butuh banget internet karena kalau tidak ada saya tidak bisa mengakses Google Maps, apps yang paling saya butuhkan dan menjadi sahabat baik saya saat traveling karena saya orangnya buta arah dan sering sekali nyasar. Parah, kan, kalau saya nyasar di Eropa dan gak pulang-pulang? Hehehe.

Karena sedang tidak ada pulsa saat itu, jadi saya jalan santai saja sambil mencari tobacco shop terdekat dari hostel. Tidak jauh dari hostel ada satu toko yang kalau dilihat dari luar lebih mirip kafe ketimbang toko rokok. “Okelah, mending ke sini aja,” saya berkata pada diri sendiri. Masuklah saya ke toko tersebut. Tidak ada sapaan selamat datang dari dalam sana saat saya masuk, seperti yang biasa dilakukan para penjaga toko di Paris dengan SOP khasnya. Biasanya mereka akan menyelamatdatangi para pengunjung dengan mengatakan “Bonjour, je pourrais vous aider ?”. Tapi ini tidak. Saya di dalam sana seperti hantu yang masuk dengan menembus pintu, padahal ada beberapa orang kakek-kakek sedang minum kopi sambil merokok.

Ok, mungkin memang penjaga toko di sini tidak terlalu ramah seperti kebanyakan Parisians pada umumnya. Saya tetap bersikap ramah ala saya dan berusaha memanggil penjaga toko. Saat saya hendak memanggil, penjaga toko sok ini malah memalingkan wajah dan mengacuhkan saya. Buset, jutek amat nih mas-mas satu ini. Saya masih diam di depan konter sambil menunggu mas sialan ini mendatangi saya. Saya kaget saat dia menghampiri saya dia langsung bilang, “Rien, rien pour toi ! Dégage !” Maksudnya apa nih? Belum sempat saya bilang ingin beli pulsa saya sudah disuruh pergi dan enyah dari tokonya. Sialan. Apa-apaan ini? Kasar bener! Saya melongo diam dan merasa dipermalukan. Si kakek yang sedang ngopi itu cuma melihat saya sambil cekikikkan. Belum pernah saya dibeginikan selama hidup saya. Pedih. Akhirnya saya keluar dari toko itu dengan perasaan terhina dan kesal.

Kembali lagi saya menuju hostel sambil misuh-misuh si penjaga toko kasar dan kakek tua itu. Sampai di hostel saya ngobrol dengan resepsionis hostel dan tanya di mana bisa temukan tobacco shop dekat sini. Si resepsionis menyarankan saya ke toko yang saya datangi tadi dan saya menjelaskan bahwa saya sudah ke sana tapi saya melah diusir. Resepsionis ini tertawa mendengar cerita saya. Wah, ngeledekin nih si mbak. Untung baik dan unyu, kalau gak…

Berhenti tertawa, dia bilang kepada saya bahwa dengan perawakan saya yang seperti ini, agak kecil untuk ukuran bule dan saya termasuk kelihatan muda, tidak seperti berusia lebih dari 20 tahun, mungkin si penjaga toko tadi mengira saya masih di bawah umur untuk membeli rokok, makanya saya diusir. Yaelah, meneketehe! Saya kan gak tau kalau begitu. Wong saya memang niatnya beli pulsa kok bukan rokok. Saya cuma bisa ketawa sebal.

Akhirnya dengan menggunakan Wi-Fi hostel saya mengisi pulsa via online dengan kartu kredit. Et voilà, saya sudah punya pulsa dan memutuskan untuk selalu isi ulang pulsa online saja dan gak akan pernah ke tobacco shop lagi hanya untuk diusir untuk kedua kalinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s